Basmalah



”Dengan menyebut nama Allâh yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

ILMU DAN MAKRIFAT (1).




”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.


Penyusun awali dengan seruan ”Wahai orang-orang yang ingin terbebas dari segala mara bahaya dan yang ingin beribadah dengan benar, semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita. Untuk itu kita harus membekali diri dengan ilmu. Sebab, beribadah tanpa bekal ilmu adalah sia-sia, karena ilmu adalah pangkal dari segala perbuatan.

Perlu diketahui, ilmu dan ibadah adalah dua mata rantai yang saling berkait. Karena pada dasarnya segala yang kita lihat, kita dengar, dan kita pelajari adalah untuk ilmu dan ibadah.

Dan untuk ilmu dan ibadah itulah Al Qur'an diturunkan. Juga Rasul dan Nabi-nabi, diutus Allah hanya untuk ilmu dan beribadah. Bahkan, Allah menciptakan langit, bumi, dan segenap isinya hanya untuk ilmu dan ibadah.

Renungkanlah firman Allah di bawah ini:

اَللّٰهُ الَّذِىْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوَاتٍ وَّمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَذَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. وَ أَنَّ اللّٰهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا.

”Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya, ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12).

Dengan merenung keberadaan langit dan bumi, diharapkan kita akan memperoleh ilmu darinya. Dengan menyimak ayat di atas, kiranya sudah cukup menjadi bukti bahwa ilmu itu mulia lebih-lebih ilmu tauhid. Sebab, dengannya, kita dapat mengenal Allah dan sifat-sifat-Nya.

Juga merenungkan firman Allah di bawah ini:

وَمَـا خَلَقْتُ اْلجِنَّ وَاْلاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ.

”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Dzariyat: 56).

Hal itu menunjukkan betapa mulianya ibadah. Ayat di atas cukup menjadi bukti kemuliaannya dan bahwasanya kita harus senantiasa menjalankan ibadah. Sungguh besar arti ilmu dan ibadah sudah tercakup segala urusan dunia dan akhirat.

Membangun negara dan menciptakan kemakmuran jika semuanya dilaksanakan karena Allah, itupun termasuk ibadah. Jadi, dengan ilmu dan ibadah, dapat tercipta kebahagiaan dunia, akhirat dan kemajuan dunia yang sehat, bukan kemajuan yang menyesatkan.

Hendaknya kita memusatkan perhatian dan pikiran hanya untuk ibadah dan ilmu. Jika sudah demikian, kita akan menjadi kuat dan berhasil. Karena berpikir selain untuk ibadah dan ilmu adalah batil dan sesat, hanya akan menghancurkan dunia.
Kesimpulannya, tidak ada yang lebih baik dari Ilmu dan ibadah.

Sehubungan dengan mulianya itu, Nabi Saw. pernah bersabda:

اِنَّ فَضْلَ اْلعَالِمِ عَلَى اْلعَابِدِ كَفَضْلِىْ عَلٰى أَدْنَى رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِىْ .

”Kelebihan orang yang berilmu atas orang yang menjalankan ibadah, ibarat kelebihanku atas orang yang paling rendah di antara umatku”. (HR. Al-Haris bin Abu Uzamah dari Abu Sa'id Ak-Khudri, diperkuat riwayat Turmudzi dari Abu Umamah).

Juga perhatian sabda Rasulullah berikut:

نَظْرَةٌ اِلَى اْلعَالِمِ اَحَبُّ اِلَيَّ مِنْ عِبَادَةِ سَنَةٍ صِيَامِهَا وَقِيْامِهَا .

”Sekali melihat wajah orang berilmu, bagiku lebih suka daripada beribadah satu tahun, rajin berpuasa, dan menjalankan shalat malam. Tentunya, adalah orang berilmu yang mau mengamalkannya.”

أَلَا دُلُّكُمْ عَلٰى أَشْرَفِ أَهْلِ اْلجَنَّةِ ؟ قَلُوْابَلٰى. قَالً: هُمْ عُلُمَآءُ أُمَتٖى.

”Apakah kalian tahu, siapakah yang paling mulia diantara penghuni surga? Para sahabat menjawab. Tentu saja kami tidak mengetahui, ya Rasulullah! ” Rasulullah menjawab, ”Yaitu para ulama, orang-orang berilmu, dan umatku.”

Jelas sudah, bahwa ilmu itu ibarat permata dan lebih utama dari ibadah. Namun demikian tidak boleh meninggalkan ibadah, kita harus beribadah dengan disertai ilmu.

Misalnya sebuah pohon, ilmu ibarat pohonnya dan ibarat buahnya. Maka, jika beribadah tanpa dibekali ilmu, ilmu tersebut akan lenyap bagaikan debu ditiup angin. Di sini, kedudukan pohon lebih utama, sebab pohon merupakan intinya. Akan tetapi buah mempunyai fungsi yang lebih utama. Oleh karena itu kita harus memiliki keduanya, yakni ilmu dan ibadah.

Sehubungan dengan itu berkatalah Imam Hasan Al Basri. Tuntutlah ilmu tanpa melalaikan ibadah. Dan beribadahlah dengan tidak lupa menuntut ilmu.”

Semakin jelas kini Bahwasanya manusia memiliki ilmu dan beribadah, dan ilmu adalah lebih utama. Sebab ilmu merupakan inti dan petunjuk dalam menjalankan ibadah. Bagaimana mungkin kita menjalankan ibadah jika tidak tahu caranya?

Perhatikan sabda Rasulullah Saw.:

اَلْعِلْمُ اِمَامُ اْلعَـــمَـلِ وَ اْلعَمَلُ تَابٍعُهُ.

”Ilmu adalah imamnya amal, dan amal adalah makmumnya.”

Alasan bahwa ilmu adalah inti atau pokok yang harus didahulukan daripada ibadah ada dua : Pertama, agar berhasil dan benar dalam beribadah. Harus diketahui terlebih dahulu siapa yang harus disembah, baru kemudian kita menyembahnya. Apa jadinya jika kita menyembah, sedangkan yang kita sembah itu belum kita ketahui asma dan sifat-sifat Dzat-Nya, serta sifat wajib dan mustahil bagi_Nya? Sebab, kadang-kadang seseorang mengiktikadkan sesuatu yang tidak layak bagi_Nya. Maka ibadah yang demikian itu akan sia-sia.

Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim


Sumber: Terjemah Kitab Minhajul Abidin, Imam Al-Ghazali.