ILMU DAN MAKRIFAT (2).

”Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
Dikisahkan ada dua orang, yang seorang berilmu yang tidak pernah beribadah, dan seorang lagi berilmu tetapi menjalankan ibadah. Keduanya diuji oleh seseorang, berapa kadar kejahatan kedua orang tersebut. Lantas sipenguji mendatangi keduanya dengan mengenakan pakaian yang megah.
Ia berkata kepada orang yang rajin beribadah, "Wahai hamba_Ku, aku telah mengampuni seluruh dosamu. Maka, sekarang kau tidak usah beribadah lagi." Ahli ibadah menjawab, "Oh, itulah yang kuharapkan darimu ya Tuhanku." Ahli ibadah menganggap si penguji sebagai Tuhan, sebab tidak mengetahui sifat-sifat Tuhannya.
Selanjutnya, sang penguji mendatangi orang yang berilmu, yang waktu itu sedang minum arak. Penguji berkata, "Wahai manusia. Tuhanmu akan mengampuni dosamu!" Dengan geram ia menjawab, "Kurang ajar! (seraya mencabut pedangnya) engkau kira aku tidak tahu Tuhan?!" Demikianlah bahwa orang yang berilmu tidak akan mudah tertipu. Kini semakin jelas, setiap hamba Allah harus memiliki ilmu dan menjalankan ibadah. Dengan ilmu sebagai inti atau pokok harus diutamakan.
Rasul Saw bersabda:
”Ilmu adalah pemimpin amal sebagai makmumnya.” ”Allah memberikan ilmu kepada orang-orang yang berbahagia, tidak kepada orang-orang celaka.” (HR. Abu Nuaim, Abu Thalib Al-Makki, Al-Khatib, dan Ibnu Qayyim).
Itulah sebabnya ilmu merupakan inti (pokok) yang harus didahulukan dan diikuti oleh ibadah. Hal ini berdasarkan atas :
Pertama: Agar berhasil dalam menjalankan ibadah. Sebab, ibadah tanpa ilmu akan dihinggapi banyak penyakit yang dapat merusaknya. Mengetahui dulu Dzat yang harus disembah, baru kemudian menyembahnya. Tanpa mengetahui itu dapat menimbulkan suul khatimah (mati tidak dengan beriman kepada Allah), dan itu membuat ibadahnya sia-sia belaka.
Mengenai hal itu, sudah penyusun terangkan dalam buku Al Khouf yang terdapat dalam kumpulan buku yang berjudul Ihya' Ulumuddin.
Sekarang marilah kita bahas buku Ihya'Ulumuddin, guna mengetahui bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkan oleh sifat suul khatimah, secara ringkas.
Kebanyakan orang saleh sangat takut dengan suul khatimah. Dan suul khatimah itu ada dua tingkatan, yang keduanya sangat besar bahayanya. Kedua tingkatan tersebut adalah :
Pertama: Yaitu hati dan perasaan seseorang ketika sakaratul maut segera merenggutnya. Maka hatinya akan menjadi ragu-ragu dan tidak percaya lagi kepada Allah, hingga ia mati dalam keadaan tidak beriman. Na'udzu billah!
Dalam hal ini, sifat kufurlah yang menghalangi dirinya dengan Tuhannya, yang membuatnya berpaling dari Allah untuk selamanya. Maka azab yang sangat pedih dan kekal akan menimpanya.
Kedua : Yaitu seseorang yang tunggangi oleh kecintaan terhadap urusan duniawi yang tidak ada hubungannya dengan kehidupan akhirat. Misalnya, seseorang sedang membangun rumah, kemudian sakaratul maut akan segera menjemputnya. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak ingat apa-apa melainkan hanya memikirkan pembuatan rumahnya yang belum selesai. Maka, jika mati dalam demikian, berarti ia mati dalam keadaan jauh dari Allah SWT.
Hatinya tenggelam dalam kecintaan terhadap harta dan dunia, bahkan berpaling dari Allah. Dan jika seseorang sudah berpaling dari Allah, maka Allah balasannya!
Di antara dua tingkatan dari suul khatimah tersebut, tingkatan pertama lebih besar bahayanya. Sebab, seperti yang diterangkan Al Qur'an bahwa api neraka hanya akan menimpa orang-orang yang tertutup hatinya terhadap Allah SWT.
Sedangkan orang Mukmin yang bersih hatinya, tidak bersifat hubbud-dunya (cinta dunia), dan selalu ingat kepada Allah SWT. adalah yang disebut dalam firman Allah:
”(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu'ara: 87-88).
Kepada golongan itu api neraka berkata:
”Silahkan kalian berlalu wahai orang Mukmin, karena cahaya yang ada di hatimu telah memadamkan nyala apiku.”
Sangat berbahaya jika seorang mati dalam keadaan dikuasai oleh sifat hubbud-dunya. Karena matinya manusia adalah sebagaimana hidupnya. Demikian pula, bangkitnya dari kubur sebagaimana ia mati. Jadi saling bersesuaian.
Ada beberapa sebab yang membuat seseorang bersifat suul khatimah, yang garis besarnya telah penyusun terangkan di atas.
Seseorang dapat bersifat suul khatimah, walaupun ia seorang yang sangat berhati-hati, zuhud, dan saleh. Ini disebabkan karena dalam niatnya terkandung bid'ah, bertentangan dengan sifat yang ditekankan oleh Rasulullah Saw., para sahabat dan tabiin.
Seseorang dapat bersifat suul khatimah, walaupun ia seorang yang sangat berhati-hati, zuhud, dan saleh. Ini disebabkan karena dalam niatnya terkandung bid'ah, bertentangan dengan sifat yang ditekankan oleh Rasulullah Saw., para sahabat dan tabiin.
Rasulullah Saw. pernah berkata kepada para sahabatnya tentang Khawarij yang rajin salat dan membaca Al Qur'an, ”Ia lebih rajin dari kalian dalam hal salat dan membaca Al Qur'an, hingga jidatnya kehitam-hitaman. Akan tetapi ia membaca Al Qur'an tidak sampai ke lubuk hatinya dan salatnya tidak diterima oleh Allah SWT.
Jika demikian, bid'ah adalah sifat yang sangat membahayakan, karena dapat menyesatkan keyakinannya, bahwa Allah itu seperti makhluk. Misalnya, menganggap Allah benar-benar duduk di atas 'Arasy (singgasana gaib), padahal Allah itu laisa kamistlihi syai'un.
Kelak jika pintu hijab telah terkuak, akan diketahui bahwa Allah tidaklah sebagaimana yang digambarkannya. Dan akhirnya ia akan ingkar terhadap Allah. Saat seperti itulah ia akan mati dalam keadaan suul khatimah. Dan kelak jika seseorang sudah dekat sakaratul maut dan terkuak hijab, baru akan sadar bahwa masalah ini demikianlah kenyataannya. Ia akan kebingungan karena tidak sesuai dengan anggapannya. Dalam keadaan seperti itulah ia mati dengan sifat suul khatimah, meskipun amalannya baik. Na'udzu billah! Maka dalam ibadah yang paling penting adalah iktikad.
Seseorang yang salah iktikad dikarenakan pemikirannya, atau ikut-ikutan orang lain, berarti terjerumus dalam bahaya ini. Kesalehan dan ke-zuhud-an serta tingkah laku yang baik, juga tidak akan mampu menolong dari bahaya ini. Yang akan menyelamatkan hanyalah iktikad yang benar.
Oleh karena itu perhatikanlah hal-hal yang baik dari Nabi Muhammad Saw. yang semuanya didasari oleh iktikad yang baik pula.
Orang yang pemikirannya sederhana akan lebih selamat. Sederhana, berarti tidak berpikir secara mendalam, walaupun ia tidak begitu pandai. Tetapi ia akan lebih selamat daripada orang yang berlagak berilmu tetapi dasar iktikadnya tidak benar.
Orang yang sederhana pemikirannya itulah sesungguhnya yang beriman kepada Allah kepada Rasul_Nya, dan kepada akhirat. Dia adalah orang yang selamat.
Jika seseorang tidak mempunyai waktu untuk memperdalam ilmu tauhid, maka usahakan agar tetap yakin dan percaya, karena dengan begitu ia sudah selamat. Cukup ia berkata dalam hati, ”Aku beriman kepada Allah, berserah diri kepada Allah, dan aku beriman kepada akhirat”.
Apalagi jika ia rajin beribadah dan mencari rezeki yang halal, serta menuntut ilmu yang berguna bagi sesamanya. Ia lebih selamat daripada orang yang yang tidak pernah memperdalam ilmu pengetahuan.
Tetapi orang yang beriman pada itunya harus benar-benar kuat. Misalnya, para petani yang tinggal jauh dari keramaian kota, dan orang-orang yang tidak pernah turut berkecimpung dalam forum diskusi dan perdebatan.
Pada suatu saat, Rasulullah memperingatkan orang yang sedang berdebat masalah takdir. Rasulullah Saw. sangat marah dan mukanya merah padam, lantas berkata, ”Orang-orang yang terdahulu sesat, karena antara lain, suka berdebat masalah qadha dan qadar.” Kemudian beliau bersabda :
”Orang-orang yang pada mulanya benar, tetapi kemudian sesat disebabkan karena mereka suka berbantah-bantahan. berbantah-bantahan kadang-kadang memperebutkan sesuatu yang tidak berguna.”
Selanjutnya Rasulullah Saw bersabda:
”Kebanyakan penghuni surga adalah orang-orang yang berpikir sederhana.” (HR. Imam Baihaqi dalam Syu'abul Iman).
Hendaknya tidak ragu-ragu dan cukup pada garis besarnya saja dalam beriktikad. Oleh sebab itu Rasulullah melarang memperbincangkan orang lain. Pikirkan saja bagaimana agar ibadahnya sah dan diterima, serta bagaimana mencari rezeki yang halal, misalnya tidak mempersoalkan sesuatu yang bukan ahlinya.
Rasulullah Saw. sering memberi nasihat demikian, karena merasa iba terhadap orang yang berbuat seperti itu. Belum jelas kegunaannya, tetapi sangat jelas bahayanya.
Pada dasarnya, memang percaya kepada isi Al Qur'an dan Sunnah Nabi. Jika terdapat ayat Al Qur'an yang tidak mengerti, maka serahkan kepada Allah SWT. Dan bagi orang awam yang tidak begitu mengetahui, cukup menerima apa adanya, selama tidak menyekutukan Allah dengan apa pun juga. Sebab Allah laisa Kamislihi Syai'un. Bagaimana dan seperti apa Allah itu, Wallahu 'alam. Hanya Allah yang tahu, lebih-lebih tentang dzat Allah.
Rasulullah Saw. melarang orang men-takwil-kan sesuatu yang di situ diselipkan ayat-ayat Al Qur'an dengan tujuan agar dapat diterima akal sehat guna mencari kesesuaian hukum alam, padahal teori selalu berubah.
Pada zaman dahulu orang suka mencocokkan ayat-ayat Al Qur'an dengan teori ilmu fisika dan ilmu lainnya. Kemudian, teori itu mengalami perubahan, padahal orang itu telah mati. Maka, tafsirannya pun hanya akan menjadi sampah. Itulah kenyataannya, teori manusia akan selalu mengalami perubahan. Sedang dia mendasarkan tafsirannya pada Al Qur'an bagi teori-teorinya, kemudian dibawa mati. Hal ini sangat berbahaya.
Oleh karena itu janganlah sekali-kali menafsirkan Al Qur'an hanya dengan meraba-raba saja. Sebab, ilmu pengetahuan, baik klasik maupun modern, pada dasarnya hanyalah berupa pengalaman dan percobaan-percobaan yang merupakan perhitungan belaka.
Pada hakikatnya mereka belum mengetahui, apa sebenarnya hakikat elektrisitet, demikian pula apa sebenarnya hakikat aether. Oleh sebab itu, janganlah sekali-kali mendasarkan iktikad hanya pada hasil perhitungan. Seyogyanya kita mengetahui secara global, karena hal tersebut ada orang yang melarang agar pintu tidak dibuka sama sekali.
Kadang-kadang, ada orang yang mendapatkan ilham dari Allah dengan dibersihkan hatinya dan inkisyaf. Sebelum mati, ia sudah inkisyaf, dan nantinya setiap orang juga akan inkisyaf walaupun bukan seorang wali. Tetapi wali pun kadang-kadang sudah inkisyaf semasa hidupnya.
Para wali mengerti adab kesopanan. Mereka hanya terdiam, karena tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Dan jika hal itu dibahas, akan menimbulkan banyak bahaya. Permasalahannya sangat sulit, sehingga akal manusia tidak mampu menelaah sifat-sifat dan Dzat Allah. Untuk mendekatkan diri kepada_Nya, cukup dengan perasaan, tidak perlu dengan akal. Dan dengan keyakinan dalam hati itu, para wali kadang-kadang membuat peristilahan yang hanya dapat dimengerti oleh mereka. Inilah sebab yang pertama.
Sebab yang kedua dari sifat suul khatimah, dikarenakan iman yang lemah, yang sebagian besar disebabkan karena pergaulan. Jika seseorang bergaul dengan orang-orang yang lemah imannya, maka ia pun akan semakin lemah imannya. Juga dikarenakan sering membaca buku yang dapat membuat iman lemah. Bahkan orang akan menjadi atheis dan kufur.
Kedua sebab yang membuat lemah iman itu ditambah lagi dengan sifat hubbud-dunya. Jika iman sudah lemah, maka kecintaan terhadap Allah pun akan lemah. Akibatnya, ia akan mementingkan diri sendiri dan kecintaan terhadap urusan duniawi semakin kuat.
Akhirnya ia benar-benar dikuasai oleh sifat hubbud-dunya, tidak punya waktu lagi untuk mencintai Allah. Ia mencintai Allah dan mengakui bahwa Allah Yang Menciptakannya. Namun itu hanyalah pengakuan lahiriyah. Dan hal itulah yang membuatnya senantiasa melampiaskan nafsu syahwatnya, hingga hatinya mengeras dan tertimbun kegelapan dosa. Lama kelamaan, imannya semakin surut, hingga hilang sama sekali dan jadilah ia kufur.
Sehubungan dengan hal itu Allah SWT. berfirman :
”…dan hati mereka telah dikunci mati, maka mereka tidak mengetahui (kebahagiaan dan berjihad).” (At-Taubah : 87).
Dosanya tidak dapat lagi dihapuskan dari hatinya. Jika sakaratul maut telah datang, kecintaan mereka terhadap dunia semakin kuat, dan kecintaan kepada Allah semakin lemah. Sebab, mereka sedih dan berat meninggalkan kesenangan dunia, sebab, sifaf hubbud-dunya benar-benar telah menguasai dirinya.
Setiap orang yang ditinggalkan sesuatu yang dicintai pasti akan merasa sedih. Kemudian, timbul pertanyaan, mengapa Allah mencabut nyawaku? Lantas imannya menjadi luntur, sehingga membenci takdir Allah. Mengapa Allah mencabut nyawaku dan tidak memperpanjang umurku? Jika dalam seperti itu ia mati, berarti ia mati dalam keadaan suul khatimah. Na'udzu billah.
Demikianlah penjelasan singkat Imam Ghazali dalam bukunya Ihya'. Kemudian kerjakanlah salat, puasa, dan sebagainya seperti yang diperintahkan Allah SWT, sebanyak mungkin. Disamping itu, jauhilah segala hal yang menjadi larangan Allah SWT, seperti riya', ujub, dan sebagainya, yang merupakan sifat-sifat tercela. Mengenai hal itu akan diterangkan dalam buku ini agar sifat-sifat demikian terjauh dari kita.
Seseorang tidak mungkin berlaku ta'at apabila ia belum mengetahui apa-apa yang harus dikerjakan dan segala yang harus ditinggalkan. Apakah yang dimaksud ta'at? Bagaimana cara mengerjakannya? Bagaimana kita bisa menjauhi perbuatan maksiat, sedang kita belum mengetahui jenisnya? Jika seseorang mengetahui bahwa dusta adalah haram, maka ia akan meninggalkannya. Untuk itu kita harus belajar, apa yang diwajibkan dan apa yang diharamkan bagi kita, agar kita tidak terjerumus ke dalam perbuatan dosa dan durhaka.
Jadi kita wajib mengkaji dan mempelajari ibadah syar'i. Seperti bersuci, mandi dan wudhu, salat, puasa dan sebagainya, karena ibadah-ibadah itu fardhu ain hukumnya. Selain itu, setiap insan muslim wajib pula mempelajari ilmu fiqih beserta hukum dan syarat-syaratnya, agar dapat menjalankannya dengan benar.
Adakalanya seseorang terus-menerus melakukan perbuatan yang dianggap baik, padahal perbuatan tersebut dapat merusak kesucian, salat dan sebagainya.
Pernah pada suatu saat seseorang di dalam mesjid. Tetapi ia tidak mengetahui bagaimana cara sujud, ruku' dan sebagainya. Niatnya sudah baik, tetapi belum mempelajari bagaimana cara melakukan salat. Sehingga salatnya tidak sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. Sedangkan ia sendiri tidak merasa bersalah, karena salat adalah wajib ain hukumnya, dan akan lebih baik lagi jika ditambah dengan ibadah-ibadah sunat.
Kadang-kadang kita menemui kesulitan bagaimana menjalankan salat ketika bepergian. Bagi yang belum pernah mengaji dan belajar agama, tentu akan kebingungan untuk melakukannya. Oleh karena itu belajar mengaji adalah sangat penting. Juga memperdalam ilmu tasawuf, yaitu ibadah batin. Jika menjalankan salat, puasa, menunaikan ibadah haji dan mengeluarkan zakat termasuk ibadah lahir, maka yang termasuk ibadah batin diantaranya adalah menjauhkan diri dari sifat takabur. Lawan dari takabur adalah tawadlu'. Dzikrul minnah lawan dari ujub. Kisarul amal lawan tulil amal, yang disebut di atas juga termasuk ibadah batin.
Dalam menjalankannya, ibadah lahir maupun ibadah batin harus seimbang, agar tidak berat sebelah dan pincang. Ibadah-ibadah batin, yaitu ibadah yang dilakukan oleh hati, harus pula kita ketahui dan pelajari. Untuk mempelajarinya, pembaca bisa membaca buku Minhajul Abidin. Dan untuk mempelajari ibadah yang bersifat lahiriyah, pembaca dapat mempelajari lewat buku Bidayatul Hidayah atau Fathul Qarib.
Bentuk ibadah batin yang lain adalah tawakal, yang artinya percaya dan pasrah kepada Allah dalam segala urusan yang kita khawatirkan. Karena manusia tidak lepas dari rasa khawatir. Misalnya dalam mencari rezeki yang halal, kadang-kadang kita khawatir kalau dagangan kita rugi, jangan-jangan sawah kita diserang hama, dan sebagainya. Dalam kekhawatiran seperti itu, selayaknya kita kembali dan serahkan kepada Allah.
Insya Allah hal itu akan penyusun nukilkan dari keterangan panjang lebar Imam Ghazali dalam bukunya, Minhajul Abidin, dan lainnya.
Kita tidak boleh menentang dan harus ikhlas menerima takdir Allah. Harus sabar dalam menghadapi cobaan, tahan uji, tahan derita, dan tabah dalam menghadapi cobaan. Itulah orang yang kuat imannya. Sebab sabar sendiri berarti tahan uji.
Perihal tobat tersebut juga akan penyusun terangkan dalam buku Minhajul Abidin ini ditambah dari buku-buku lain karangan Imam Al Ghazali.
Kita sudah mengenal kata ikhlas, tetapi perlu penyusun jelaskan bahwa ikhlas berarti meninggalkan sifat riya' dalam beramal dan beribadah.
Dalam menjalankan ibadah batin, terdapat pula larangan-larangannya, yang hal itu harus diketahui oleh setiap muslim. Sebab apa artinya beragama Islam jika tidak mengetahui larangan-larangan dan kewajiban-kewajibannya? hati akan menjadi kosong, penuh dengan sifat-sifat jahat dan busuk. Islam berfungsi untuk membersihkan sifat-sifat buruk tersebut.
Apa artinya kita beragama Islam jika hatinya kotor dan tidak saleh, hanya sunat dan membaca syahadat sewaktu akan nikah? Salatnya didasari sifat riya' dan ujub, tidak ada artinya semua itu. Islam adalah menjalankan amalan-amalan batin serta menjauhi larangan-larangan batin. Larangan batin di antaranya tidak ikhlas menerima takdir Allah Swt.
Penyusun pernah membaca suatu kisah, ada seorang yang ditinggal mati istri dan anak-anaknya, kemudian orang tersebut mengumpat Tuhan. Nah, perbuatannya itu merupakan dosa besar, karena tidak mau menerima takdir Allah.
Amal yang a-nya ditulis dengan ain mempunyai arti perbuatan. Sedangkan amal yang a-nya ditulis dengan hamzah, artinya merasa tidak akan mati, dan itu dosa besar. Sebab jika seseorang, merasa tidak akan mati, ia akan menunda-nunda ketaatan kepada Allah Swt.
Riya' adalah perbuatan yang tidak ikhlas, pura-pura, beribadah hanya agar dipuji orang. Jadi bukan karena Allah.
Adapun kibir adalah merasa dirinya besar atau sombong. Padahal pada hakikatnya tiada manusia yang besar. Kebesaran dan baiknya seseorang akan diketahui jika pada ajalnya kelak ia suul khatimah, berarti ia mati sebagai seorang yang kerdil, meskipun merasa dirinya besar. Untuk itu jauhilah sifat-sifat buruk tersebut.
Dengan jelas dalam Al Qur'an, nash dan ayat-ayatnya mewajibkan kita agar menjalankan ibadah rutin dan menjauhi maksiat-maksiat batin. Ayat-ayat Al Qur'an yang membicarakan hukum lahir kurang lebih lima ratus ayat, sedangkan yang membicarakan ibadah batin hampir dari awal sampai akhir, termasuk didalamnya membahas masalah maksiat batin.
Allah memerintahkan umatnya menjalankan ibadah batin, berlaku sabar, tawakal, ikhlas dalam menerima takdir, selalu ingat kepada karunia Allah dan sebagainya. Jika ibadah batin seperti tersebut di atas nyata-nyata diperintahkan oleh Al Qur'an dan hadits, maka tidak ada artinya keislaman seseorang jika ia masih suka menggunjing orang, berbohong, durhaka terhadap kedua orangtua, berprasangka buruk terhadap sesama muslim dan sifat-sifat tercela lainnya. Orang muslim yang demikian tidak ada bedanya dengan orang non muslim. Ia tahu bahwa Tuhan ada, tetapi hatinya Sombong, takabur, Riya', suka pamer seperti
Bakhil atau kikir, Ujub, menolak kebenaran halnya iblis. Jadi, ibadah hati itu sangatlah penting.
Allah dengan tegas melarang perbuatan-perbuatan maksiat batin. Juga hadits Nabi (sebagian besar hadits mutawatir). Sehubungan dengan hal itu Allah berfirman:
وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْۤا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ.
”Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu orang-orang beriman."
(QS. Al-Ma'idah: Ayat 23)
Tawakal menunjukkan kuatnya iman, dan hukumnya wajib seperti halnya ibadah shalat, puasa, menunaikan haji dan zakat. Allah berfirman:
وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ کُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ.
"….Dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya."
(QS. Al-Baqarah: Ayat 172)
Jadi jika kita tidak bersyukur kepada Allah, berarti tidak beribadah kepada Allah SWT. Bersyukur adalah menggunakan nikmat Allah guna berlaku taat kepada-Nya. Keterangan lebih jelas akan penyusun berikan dalam bagian lain dari bab ini. Misalnya begini, ayah memberikan sejumlah uang kepada anaknya, kemudian sang anak memanfaatkannya untuk hal-hal yang baik dan yang disukai oleh ayahnya. Berarti anak itu bersyukur kepada ayahnya. Tetapi jika uang itu dipergunakan untuk hal-hal yang tidak disukai ayahnya, berarti ia tidak bersyukur terhadap pemberian ayahnya.
Allah memberikan akal kepada kita untuk berpikir. Tetapi manusia sering mempergunakan akalnya untuk memikirkan yang bukan-bukan, sehingga akhirnya ia kufur dan ingkar terhadap Allah SWT.
Ibarat seorang raja menghadiahkan pedang kepada prajuritnya yang dianggap berjasa. Setelah menerima pedang tersebut, si prajurit menjadi berubah, bahkan pedang pemberian raja itu dipergunakannya untuk membunuh sang raja.
Hal itu sama halnya dengan Allah memberikan akal kepada kita. Jika kita pergunakan akal itu hingga mengatakan bahwa Allah itu tidak ada, berarti kita tidak bersyukur atas nikmat Allah.
Allah berfirman:
Allah SWT berfirman:
وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ اِلَّا بِاللّٰهِ
"Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: Ayat 127).
Ini menunjukkan bahwa Allah SWT. memerintahkan kita berlaku sabar. Dan sabar berarti bersama Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
َ وَتَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًا. (المزمل : ٨).
"Berlakulah ikhlas secara benar karena Allah.”
(QS. Al-Muzzammil: Ayat 8)
Dan ini menunjukkan bahwa ikhlas adalah wajib. Hal itu dikuatkan oleh sabda Rasulullah Saw.
”Barangsiapa benar-benar ikhlas kepada Allah, niscaya akan ditanggung segala urusannya dan diberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al Qur'an dan hadits Nabi yang menguatkan hal itu. Seperti firman Allah dalam memerintahkan shalat dan puasa. Jika demikian, mengapa manusia hanya mau menerima perintah shalat dan puasa, tetapi meninggalkan perintah menjalankan tawakal, sabar dan sebagainya? Padahal semuanya adalah Allah yang memerintahkan, dan dengan kitab yang sama yakni Al Qur'an. Bahkan orang melupakan fardhu-fardhu tersebut. Sehingga ia tidak mengerti segala dari fardhu-fardhu itu karena terpengaruh oleh orang-orang yang bersifat hubbud dunya, yang terbalik pandangannya. Sehingga yang baik dianggap buruk dan yang buruk dikatakan baik. Juga berkat hasutan orang-orang yang meremehkan dan meninggalkan ilmu yang bermanfaat. Yang dalam Al Qur'an oleh Allah manfaat ilmu itu disebut nur, hikmah dan huda. Dan berkat hasutan orang-orang yang mengejar ilmu haram guna mengejar kesenangan dunia, yang pada akhirnya akan mengalami kehancuran.
”Aku telah hafal dari Rasulullah dua macam ilmu:Pertama Ialah Ilmu yg Aku Di Anjurkan Untuk Menyebarluaskan(Mengajarkan) kepada Sekalian Manusia.Dan Yg Kedua Ialah Ilmu yg Aku Tidak Di Perintahkan Untuk Menyebarluaskan(mengajarkan)kepada Manusia.Maka Apabila Ilmu Ini Aku Sebarluaskan Niscaya Engkau Sekalian Akan Memotong Leherku.” (HR.Thabrani)
